Anggie Wiyani

HER JOURNEY

Thinking and Remembering

Hari ini hujan. Rintik. Di rumahku orang tak akan menyebutnya hujan, hanya gerimis.


dan hari ini ku termenung dan sedih.

Betapa hal yang dianggap lazim di rumah menjadi begitu berbeda di mata orang di sini.

Mengapa kita harus berbeda?

Apakah kita harus berbeda untuk bisa berguru satu sama lain?

Apakah tak ada perjuangan kalau tak ada perbedaan?



Ku utarakan fakta bahwa tak semua anak usia sekolah bersekolah di rumahku. Ku membuat satu kelas terbengong-bengong. Mereka tak bisa pahami apa yang dilakukan anak usia sekolah jika tak bersekolah. Mereka tak bisa pahami kalau untuk bersekolah butuh usaha dan banyak keluarga yang dibatasi keterbatasan yang beragam rupa. Mereka selama ini kira sekolah itu datang dari langit dan berdiri kokoh sejak abad ke-18 dan orang yang ingin belajar tinggal masuk saja.

Tak selalu seperti itu, kawan. Kau bicara tentang rumahku. Yang kini kurasa seperti ada di dunia yang lain. Kini kurasa sangat jauh dan sangat berbeda.


Mereka anggap duduk di bangku sekolah mendidik anak menjadi pemikir. Mengkritisi apa yang ada di buku pelajaran. Mengajak anak berpikir mengenai berbagai hal dalam hidup.

Tapi tahukah kau, di rumahku masih ada anak yang tak bisa ingat bagaimana menulis namanya sendiri? Masih ada anak yang tak bisa ingat mengeja abjad? Masih ada yang tak bisa ingat nama ibu kota negaranya? Masih ada yang tak tahu wujud kereta api?


Lantas, bagaimana kita bisa dipersatukan? Di bawah payung apa kita semua bisa beramai-ramai senang dan puas merasa terdidik sebagai seorang manusia?


York,
pertengahan Februari

Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home